Aku ingin berlari untuk apa yang tidak mungkin tergapai. Ingin pergi untuk menghilangkan rasa, ketika begitu sulit untuk melihat apa yang berubah, aku berharap untuk bisa menjadi baik-baik saja, memulai hidup dengan merubah yang telah pergi. Aku tidak bisa baik-baik saja, aku rindu dengan apa yang mulai hilang, dengan apa yang telah membuat hidup lebih berarti, dengan nafas yang beiring bersamaan. Dengan detakan jantung yang berdegup hebat. Dengan rasa yang bergulir cepat, dan untuk warna yang selalu indah hingga ternoda. Hanya ingin berlari saja untuk mengentikan nyeri didada, sesuatu yang menyumbat melambai untuk kamu kembali. Tidak mungkin kembali dengan rasa sakit.


Jika boleh, ingin meminta satu kesempatan untuk memperbaiki yang rusak, untuk menjadi yang lebih baik, untuk bisa mengulang apa yang selalu dirindukan. Tapi tidak, tidak bisa.



Seharusnya bisa menahan diri. Benar untuk pergi saja, kita masih bebas memilih dengan siapa, dan lebih mencari yang baik. Hati menarik untuk tetap tinggal, sedangkan rasa sudah tidak mungkin bisa. Aku menarik rasa paksa, memeluk erat untuk tidak kembali pergi. Memaksa untuk rasa selalu tinggal. Mengapa sulit mendapatkan kesempatan. Akan selalu ada sedih yang mengikuti gelap tersudut pada rongga dada. Terlalu memaksakan untuk sesuatu yang sudah tidak mau tinggal. Jangan paksa hati, sulit untuk menjalani apa yang seharusnya pergi. Mengapa terus memaksa hingga mengurai memohon. Biar saja sakit sendiri. Dia jangan, aku membuat kesepakatan dengan hati, aku akan menjadi lebih baik untuk dia, untuk menjadi apa yang dia inginkan selama ini yang tidak bisa aku beri. Aku mampu menjadi bukan diriku demi satu kesempatan dengan paksa. Aku mulai merubah aspek dengan waktu yang singkat, ternyata menkadi apa yang selalu tulus terus saja mendapat rasa nyeri yang luar biasa, aku memaafkan untuk apa yang terjadi untuk bisa tersenyum melihatmu berbeda. Aku akan selalu baik agar tidak melihat kamu kembali berlari, sulit juga untuk menjadi yang terbaik. Aku mengerti rasa sakitmu dulu. Aku kembali tulus, tapi telat untuk waktu. Jika begitu, mengapa menyuruhku untuk mencintaimu, mengapa kamu selalu menjadikan selamanya sedangkan kamu juga yang melangkah pergi. Aku hanya belum bisa saja menerima kepergian kamu, belum betul siap dengan apa yang akan terjadi selanjutnya, biarkan saja rasa ini hilang dengan rasa sakit yang kamu buat. Tetapi mengapa aku selalu kuat? Aku ingin berhenti mengakhiri. Aku mengerti dengan rasa tulus yang dimainkan. Aku sedang menunggu waktu untuk pergi saja.

Kamu tau, senangku saat kita pertama bertemu? Kamu tau senyumku saat kita mulai berbicara, kamu tau? Bahagiaku saat bersamamu? Kamu tau? Warnaku saat kamu mulai hadir? Semuanya indah, bergulir dengan cepat. Aku senang saat mengingat bahagia jauh dibelakang. Mereka bertumpuk rapi dalam otak, aku simpan dilaci otak besar, disimpan dalam kotak dengan tulisan namamu, sesekali aku selalu membuka mereka, kembali berkerja dengan naluri rasa dulu, mereka tidak bisa kembali, mereka hanya datang sekali. Makanya aku selalu menyimpan dengan baik mereka, supaya aku bisa bebas mengingat apa yang lalu tampa takut overdosis.


Aku tau cepat atau lambat, semuanya akan bergulir hilang. Perlahan menjauh, seketika berbeda. Hidup adalah siklus memanjang. Ada dimana harus berhenti, kamu tau begitu banyak frasa yang aku ukir selama ini? Dan nanti harus hilang untuk orang lain? Kamu fikir ini lucu? Aku mengumpulkan guji hati dan nanti harus dipaksa hilang. Nanti pasti ada saatnya dimana aku bertemu denganmu dan jantungku tidak lagi berdegup seirama. Akan ada saat dimana kita akan saling kembali tertawa dengan status yang berbeda. Aku takut untuk hal itu, aku takut mengubah segalanya yang sudah menjadi keterbiasaan. Aku tau, sendiri tidaklah setakut itu. Aku hanya takut, jika sudah tidak bersama kamu akan bahagia dengan cepat. Sedangkan kamu pernah lama mengumpulkan bahagia bersamaku. Akankah, kau juga akan seperti aku? Takut untuk memulai dan lebih baik melangkah kembali? Aku selalu menjadi rumah untuk kamu kembali. Aku pernah menjadi sesuatu yang selalu membuatmu nyaman. Aku yang selalu menunggumu pulang. Tidak kah selama ini kita sudah berusaha untuk membangun sesuatu yang indah bersama. Aku hanya takut, kamu memilih kembali berlari. Dan aku tidak bisa kembali menggapaimu, melihat kamu yang semakin jauh, 

Komentar